"Hidup itu bagaikan naik sepeda kita harus pandai-pandai menjaga keseimbangan untuk maju terus. Kadang ada di atas, kadang di bawah persis putaran pedal sepeda, serupa dengan siklus kehidupan."
"Keseimbangannya adalah antara rohani dan duniawi. Untuk mendapatkan sedikit bagian dunia, kita rela menghabiskan seluruh waktu kita. Mengapa kita keberatan menggunakan beberapa jam sehari buat hidup kekal abadi di surga?"
"Bukankah Allah sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Ia berjanji akan mengabulkannya?"
Itu betul. Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya memalukan. Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari meminta berkah-Nya, tanpa pernah memberi. Allah memang maha pemberi, termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan ?"
"Perhatikan, banyak yang minta kepada Allah kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, naik pangkat, buang jauh-jauh kemiskinan. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita. Allah kita
puji-puji karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu. Allah kita sembah, lalu kita perah rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena memang kecintaan kita kepada Allah, seperti tekad Al Adawiah itu,"
Betapa rendahnya kita di mata Nya...yang hanya selalu meminta tanpa pernah memberi.......
puji-puji karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu. Allah kita sembah, lalu kita perah rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena memang kecintaan kita kepada Allah, seperti tekad Al Adawiah itu,"
Betapa rendahnya kita di mata Nya...yang hanya selalu meminta tanpa pernah memberi.......